Ads 468x60px

Senin, 18 Mei 2015

Cara pembuatan 100mL HCl 0,1N dari HCl pekat

Cara pembuatan 100mL HCl 0,1N dari HCl pekat

Sebelum dapat membuat suatu larutan dengan konsentrasi tertentu kita harus mengetahui beberapa satuan konsentrasi yang dapat dinyatakan sebagai berikut:
1.      Konsentrasi molar atau molaritas (M)
Konsentrasi molar atau molaritas (M) menyatakan banyak mol zat terlarut dalam setiap liter larutan (mol L-1). Satuannya adalah molar (M).
Keterangan:
g : Massa zat terlarut (gram)
Mr : Massa molekul relative (gram mol -1)
mL : Volume pelarut (mL)
2.      Konsentrasi molal atau kemolalan (m)
Konsentrasi molal atau kemolalan (m) menyatakan banyak mol zat terlarut dalam satu kilogram plarut (mol Kg-1)
Keterangan:
g : Massa zat terlarut (gram)
p : massa pelarut ( gram)
Mr : Massa molekul relative (gram mol -1)
3.      Fraksi mol (X)
banyaknay mol suatu komponn larutan dibagi banyaknya mol seluruhnya.
Keterangan:
XA = farksi mol zat terlarut
NA = farksi mol zat terlarut
XB = farksi mol zat terlarut
NB = farksi mol zat terlarut
4.      Normalitas (N)
Normalitas adalah satuan konsentrasi yang sudah memperhitungkan kation atau anion yang dikandung sebuah larutan. Normalitas didefinisikan banyaknya zat dalam gram ekivalen dalam satu liter larutan dengan satuan N.

Pembuatan larutan 100 mL HCl 0,1N dilakukan dengan menentukan dulu berapa Normalitas pada HCl dengan cara :
1.      Menyiapkan alat dan bahan yang diperlukan
Adapun alat-alat yang diguanakan dalam pembuatan 100mL larutan HCl 0,1N yaitu  gelas ukur 100mL , pipet tetes dan labu ukur 10mL.
Sedangkan bahan yang digunakan dalam pembuatan 100mL larutan HCl 0,1N yaitu HCl pekat 37% dengan Berat jenis 1,19 garm mL-1 dan aquades.
2.      Menentukan volume HCL 37%vyang akan digunakan dalam pembuatan 100mL larutan HCl 0,1N:
Keterangan:
V : Banyaknya HCl yanng diambil (mL)
N : Normalitas larutan HCl yang akan dibuat (0,1N)
: Volume asam yang akan dibuat (100mL)
M : Berat Molekul asam (HCL= 36,5 garm mol-1)
n : Valensi asam (HCl =1)
L : Berat jenis asam ( HCl = 1,19 gram mL -1)
K : Kadar asam HCl (37%)

Sehingga dalam pembuatan 100mL larutan HCl 0,1N diguanakan HCl pekat 37% sebanyak:
V = 0,83 mL
3.      Langkah selanjutnya yaitu mengambil 0,83 mL larutan HCl pekat 37% dengan pipet tetes lalu memasukkannya ke dalam labu ukur 100mL
4.      Menambahkan aquades ke dalam labu ukur 100mL tersebut sampai taanda batas

5.      Mengocok hingga homogen.

Kamis, 14 Mei 2015

Reaksi Redoks

REAKSI REDOKS 

Elektrokimia I : Penyetaraan Reaksi Redoks dan Sel Volta
Reaksi Redoks adalah reaksi yang didalamnya terjadi perpindahan elektron secara berurutan dari satu spesies kimia ke spesies kimia lainnya, yang sesungguhnya terdiri atas dua reaksi yang berbeda, yaitu oksidasi (kehilangan elektron) dan reduksi (memperoleh elektron). Reaksi ini merupakan pasangan, sebab elektron yang hilang pada reaksi oksidasi sama dengan elektron yang diperoleh pada reaksi reduksi. Masing-masing reaksi (oksidasi dan reduksi) disebut reaksi paruh (setengah reaksi), sebab diperlukan dua setengah reaksi ini untuk membentuk sebuah reaksi dan reaksi keseluruhannya disebut reaksi redoks.
Ada tiga definisi yang dapat digunakan untuk oksidasi, yaitu kehilangan elektron, memperoleh oksigen, atau kehilangan hidrogen. Dalam pembahasan ini, kita menggunakan definisi kehilangan elektron. Sementara definisi lainnya berguna saat menjelaskan proses fotosintesis dan pembakaran.
Oksidasi adalah reaksi dimana suatu senyawa kimia kehilangan elektron selama perubahan dari reaktan menjadi produk. Sebagai contoh, ketika logam Kalium bereaksi dengan gas Klorin membentuk garam Kalium Klorida (KCl), logam Kalium kehilangan satu elektron yang kemudian akan digunakan oleh klorin. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
K —–> K+ + e-
Ketika Kalium kehilangan elektron, para kimiawan mengatakan bahwa logam Kalium itu telah teroksidasi menjadi kation Kalium.
Seperti halnya oksidasi, ada tiga definisi yang dapat digunakan untuk menjelaskan reduksi, yaitu memperoleh elektron, kehilangan oksigen, atau memperoleh hidrogen. Reduksi sering dilihat sebagai proses memperoleh elektron. Sebagai contoh, pada proses penyepuhan perak pada perabot rumah tangga, kation perak direduksi menjadi logam perak dengan cara memperoleh elektron. Reaksi yang terjadi adalah sebagai berikut :
Ag+ + e- ——> Ag
Ketika mendapatkan elektron, para kimiawan mengatakan bahwa kation perak telah tereduksi menjadi logam perak.
Baik oksidasi maupun reduksi tidak dapat terjadi sendiri, harus keduanya. Ketika elektron tersebut hilang, sesuatu harus mendapatkannya. Sebagai contoh, reaksi yang terjadi antara logam seng dengan larutan tembaga (II) sulfat dapat dinyatakan dalam persamaan reaksi berikut:
Zn(s) + CuSO4(aq) ——> ZnSO4(aq) + Cu(s)
Zn(s) + Cu2+(aq) ——> Zn2+(aq) + Cu(s) (persamaan ion bersih)
Sebenarnya, reaksi keseluruhannya terdiri atas dua reaksi paruh:
Zn(s) ——> Zn2+(aq) + 2e-
Cu2+(aq) + 2e- ——> Cu(s)
Logam seng kehilangan dua elektron, sedangkan kation tembaga (II) mendapatkan dua elektron yang sama. Logam seng teroksidasi. Tetapi, tanpa adanya kation tembaga (II), tidak akan terjadi suatu apa pun. Kation tembaga (II) disebut zat pengoksidasi (oksidator). Oksidator menerima elektron yang berasal dari spesies kimia yang telah teroksidasi.
Sementara kation tembaga (II) tereduksi karena mendapatkan elektron. Spesies yang memberikan elektron disebut zat pereduksi (reduktor). Dalam hal ini, reduktornya adalah logam seng. Dengan demikian, oksidator adalah spesies yang tereduksi dan reduktor adalah spesies yang teroksidasi. Baik oksidator maupun reduktor berada di ruas kiri (reaktan) persamaan redoks.
Elektrokimia adalah salah satu dari cabang ilmu kimia yang mengkaji tentang perubahan bentuk energi listrik menjadi energi kimia dan sebaliknya. Proses elektrokimia melibatkan reaksi redoks. Proses transfer elektron akan menghasilkan sejumlah energi listrik. Aplikasi elektrokimia dapat diterapkan dalam dua jenis sel, yaitu sel volta dan sel elektrolisis. Sebelum membahas kedua jenis sel tersebut, kita terlebih dahulu akan mempelajari metode penyetaraan reaksi redoks.
Persamaan reaksi redoks biasanya sangat kompleks, sehingga metode penyeteraan reaksi kimia biasa tidak dapat diterapkan dengan baik. Dengan demikian, para kimiawan mengembangkan dua metode untuk menyetarakan persamaan redoks. Salah satu metode disebut metode perubahan bilangan oksidasi (PBO), yang berdasarkan pada perubahan bilangan oksidasi yang terjadi selama reaksi. Metode lain, disebut metode setengah reaksi (metode ion-elektron). Metode ini melibatkan dua buah reaksi paruh, yang kemudian digabungkan menjadi reaksi redoks keseluruhan.

Koloid



KOLOID
1.    Pengertian Sistem Koloid
Sistem koloid adalah suatu bentuk campuran yang keadaannya terletak antara larutan dan suspensinya (campuran kasar). Nama koloid diberikan oleh Thomas Graham pada tahun 1861. Iatilah itu berasal dari bahasa Yunani, yaitu “kolla” dan “oid”. Kolla berarti lem, sedangkan oid berarti seperti. Dalam hal ini, yang dikaitkan dengan lem adalah sistem difusinya, sebab sistem koloid mempunyai nilai difusi yang rendah, seperti lem. Larutan biasa, misalnya larutan garam, yang mempunyai nilai difusi lebih besar disebut kristaloid. Koloid mempunyai nilai difusi yang rendah karena partikelnya berukuran lebih besar daripada molekul, yaitu berukuran maksimum 1 mikrometer, tetapi tidak dapat mengendap. Secara makroskopis, koloid tampak homogen, namun secara mikroskopis koloid bersifat heterogen.
Untuk memahami sistem koloid, marilah kita membandingkan tiga jenis campuran berikut, yaitu campuran gula dengan air, campuran tepung terigu dengan air, dan campuran susu dengan air.
Apabila kita campurkan gula dengan air, ternyata gula larut dan diperoleh larutan gula. Di dalam larutan, zat terlarut tersebar dalam bentuk partikel yang sangat kecil, sehingga tidak dapat dibedakan lagi dari mediumnya walaupun menggunakan mikroskop ultra. Larutan bersifat kontinu dan merupakan sistem satu fase (homogen). Ukuran partikel zat terlarut kurang dari 1 nm. Larutan bersifat stabil (tidak memisah) dan tidak dapat disaring.
Jika kita mencampurkan tepung terigu dengan air, ternyata tepung terigu tidak larut. Walaupun campur ini diaduk, lambat laun tepung terigu akan memisah (mengalami sedimentasi). Campuran seperti ini kita sebut suspensi. Suspensi bersifat heterogen dan tidak bersifat kontinu, sehingga merupakan sistem dua fase. Ukuran partikel tersuspensi lebih besar dari 100 nm. Suspensi dapat dipisahkan dengan penyaringan.
Selanjutnya, jika kita campurkan susu (misalnya, susu instan) dengan air, ternyata susu “larut” tetapi “larutan” itu tidak bening melainkan keruh. Jika didiamkan, campuran itu tidak memisah dan juga tidak dapat dipisahkan dengan penyaringan (hasil penyaringan tetap keruh). Secara makroskopis campuran ini tampak homogen. Jika diamati dengan mikroskop ultra, ternyata partikel-partikel susu yang tersebar di dalam air masih dapat dibedakan. Campuran seperti inilah yang disebut koloid. Ukuran partikel koloid berkisar antara 1 nm – 100 nm. Jadi koloid tergolong campuran heterogen dan merupakan sistem dua fase. Zat yang didispersikan disebut fase terdispersi, sedangkan medium yang digunakan untuk mendispersikan zat disebut medium dispersi. Fase terdispersi bersifat diskontinu (terputus-putus), sedangkan medium dispersi bersifat kontinu. Pada campuran susu dengan air yang disebutkan di atas, fase terdispersi adalah lemak, sedangkan medium dispersinya adalah air. Perbandingan sifat antara larutan, koloid, dan suspensi disimpulkan berikut ini:

PENGUJIAN SENYAWA AMINA DAN NITRIL

PENGUJIAN SENYAWA AMINA DAN NITRIL

Penulis
Nama                   : Novita Sari Fasihah     (1313023060)
P.S                       : Pendidikan Kimia

Mata Kuliah         : Kimia Organik II


 






Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung
Bandarlampung
 Desember 2014

Makalah Nitrogen dan Fosfor

NITROGEN DAN FOSROR

Penulis
Kelompok       : 12
Nama              : 1. Dwi Maisaroh                   (1313023020)
                          2. Novita Sari Fasihah           (1313023060)

P.S                   : Pendidikan Kimia (B)
Mata Kuliah    : Kimia Anorganik 1
Dosen              : 1. Dr. Noor Fadiawati,M.Si.
                          2. M. Mahfud Fauzi S.,S.Pd.,M.Sc.








Jurusan Pendidikan Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam
Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan
Universitas Lampung
Bandarlampung

22 Desember 2014

PENGARUH LIGAN TERHADAP WARNA ION KOMPLEKS

PENGARUH LIGAN TERHADAP WARNA ION KOMPLEKS
(Laporan Praktikum Kimia Anorganik I)




Oleh
Novita Sari Fasihah
1313023060


unila-logo.jpg




LABORATORIUM PEMBELAJARAN KIMIA
FAKULTAS KEGURUAN DAN ILMU PENDIDIKAN
UNIVERSITAS LAMPUNG
2014

Tata Nama Alkana

Metana
Metana merupakan gas yang terbentuk oleh adanya ikatan kovalen antara empat atom H dengan satu atom C.Metana merupakan suatu alkanaAlkana secara umum mempunyai sifat sukar bereaksi (memiliki afinitas kecil) sehingga biasa disebut sebagai parafin. Sifat lain dari alkana adalah mudah mengalami reaksi pembakaran sempurna dengan oksigen menghasilkan gas karbon dioksida (CO2) dan uap air (H2O) dengan reaksi:
CH4(g) + O2(g) -> CO2(g) + H2O(g) 

Di mana kita bisa menemukan gas metana?

Metana merupakan gas yang tidak berwarna, sehingga tidak bisa dilihat dengan mata telanjang. Tetapi metana dapat diidentifikasi melalui indra penciuman karena baunya yang khas. Sebenarnya gas metana berada di sekitar kita. Beberapa di antaranya akan saya sebutkan di sini. 
  • Metana dapat ditemukan pada kotoran hewan seperti sapi, kambing, domba, babi, unggas
  • Selain pada kotoran, hewan memamah biak juga menyuplai gas metana melalui proses sendawa
  • Metana juga ditemukan pada kotoran manusia
  • Gas elpiji yang kita gunakan juga mengandung ags metana
Etana
Etana adalah gas hidrokarbon yang terbuat dari minyak bumi. Etana adalah yang kedua (pertama adalah metana) dalam serangkaian senyawa hidrokarbon petrokimia sederhana dalam keluarga senyawa terkait bernama ‘Alkana’, yang semuanya memiliki fitur yang hanya berisi ikatan tunggal antara atom karbon. Alkana (juga dikenal sebagai parafin atau hidrokarbon jenuh) adalah senyawa kimia yang terdiri hanya dari unsur karbon (C) dan hidrogen (H). Empat Pertama alkana utama adalah metana, etana, propana, dan butana. Setelah metana, etana merupakan komponen terbesar kedua gas alam. Gas alam dari ladang gas yang berbeda bervariasi dalam volume konten etana mulai kurang dari 1% hingga lebih dari 6%.
Propana
Propana adalah senyawa alkana tiga karbon ( C3H8) yang berwujud gas dalam keadaan normal, tapi dapat dikompresi menjadi cairan yang mudah dipindahkan dalam kontainer yang tidak mahal. Senyawa ini diturunkan dari produk petroleum lain pada pemrosesan minyak bumi atau gas alam. Propana umumnya digunakan sebagai bahan bakar untuk mesin, barbeque ( pemanggang) , dan di rumah-rumah.
Dijual sebagai bahan bakar, propana dikenal juga sebagai LPG ( liquified petroleum gas - gas petroleum cair) yang dapat berupa campuran dengan sejumlah kecil propena, butana, dan butena. Kadang ditambahkan juga etanetiol sebagai bahan pemberi bau agar dapat digunakan sebagai deteksi jika terjadi kebocoran. Di Amerika Utara, komposisi utama LPG adalah propana ( paling tidak 90% ) , dengan tambahan butana dan propena. Ini adalahstandar HD5, yang awalnya dibuat terutama untuk bahan bakar kendaraan.

Butana
Butana, juga dikenal sebagai n-Butana, adalah alkana bercabang un-terdiri dari empat atom karbon. Butana adalah istilah kolektif juga digunakan untuk mendefinisikan n-butana bersama dengan isobutana isomer satu-satunya. Isomer senyawa yang isomerisasi menunjukkan orientasi serupa.
Butana adalah gas mudah terbakar yang layak dapat dicairkan. Hal ini tidak berwarna dan tidak berbau. Karakteristik terakhir menciptakan beberapa masalah, karena sangat inflamasi dan tidak dapat dideteksi sendiri dalam hal kebocoran. Oleh karena itu butana dalam bentuk cair adalah dicampur dengan odourants.

Pentana
Pentana adalah sebuah senyawa organik dengan rumus kimia C5H12 — yaitu, alkana dengan 5 atom karbon. Rumus kimia ini dapat merujuk untuk ketiga isomer strukturnya sesuai dengan tatanama IUPAC, tapi, pentana yang dimaksud disini adalah hanya untuk isomer n-pentana saja, dua yang lain disebut "metil butana" dan "dimetil propana". Siklopentana bukanlah isomer dari pentana.
Pentana pada umumnya digunakan sebagai campuran bahan bakar dan juga dipakai sebagai bahan pelarut di laboratorium. Ciri-ciri senyawa ini sangat mirip dengan butana dan heksana.

Heptana
n-Heptana adalah senyawa hidrokarbon alkana rantai lurus dengan rumus kimia H3C(CH2)5CH3 atau C7H16. Ketika digunakan sebagai campuran bahan bakar pada mesin tes anti-ketukan, bahan bakar yang mengandung 100% heptana mempunyai angka oktan sebesar nol (angka oktan 100 adalah bensin yang mengandung 100% iso-oktana). Angka oktan ini menunjukkan bagaimana kualitas bensin yang digunakan dengan melihat perbandingan heptana dan isooktana.

Heksana
Heksana adalah sebuah senyawa hidrokarbon alkana dengan rumus kimia C6H14 (isomer utama n-heksana memiliki rumus CH3(CH2)4CH3). Awalan heks- merujuk pada enam karbon atom yang terdapat pada heksana dan akhiran -ana berasal dari alkana, yang merujuk pada ikatan tunggal yang menghubungkan atom-atom karbon tersebut. Seluruh isomer heksana amat tidak reaktif, dan sering digunakan sebagai pelarut organik yang inert. Heksana juga umum terdapat pada bensin dan lem sepatu, kulit dan tekstil.

Oktana
Oktana adalah senyawa hidrokarbon jenis alkana dengan rumus kimia C8H18. Oktana mempunyai banyak jenis isomer struktur yang perbedaannya terletak pada jumlah dan lokasi percabangan dari rantai karbonnya. Salah satu isomernya, 2,2,4-trimetilpentana(isooktana) adalah komponen utama pada bensin dan digunakan pada penghitungan bilangan oktan.

Nonana
Nonana adalah senyawa hidrokarbon linear berjenis alkana dengan rumus molekul C9H20.
Nonana mempunyai 35 isomer strukturTripropilena merupakan senyawa yang terdiri dari gabungan 3 isomer nonana.

Dekana
Dekana merupakan senyawa hidrokarbon berjenis alkana dengan rumus molekul CH3(CH2)8CH3
Dekana mempunyai 75 isomer struktur,[2] semuanya berbentuk cairan dan mudah terbakar. Dekana merupakan salah satu komponen pada bensin. Seperti alkana lainnya, senyawa ini nonpolar sehingga tidak akan bercampur dengan senyawa polar sepertiair. Mempunyai tegangan permukaan sebesar 0,0238 N·m−1.[3]